Text
Filsafat Kedai Kopi: Antara Aroma, Wacana, dan Makna
DAFTAR ISI | KATA PENGANTAR i | SAMBUTAN-SAMBUTAN iii | PRAKATA xii | DAFTAR ISI xiv | Kinta: Keberanian Memutuskan 1 | Rota: Terasing 5 | Lugna: Kehilangan Arah 9 | Nyaman: Pemerintahan Yang Semu 19 | Kava: Kepemilikan dan Keuntungan 23 | Upnormal: Ilusi Perubahan dan Pertumbuhan 27 | Tuwa Kawa: Masa Kanak-Kanak 31 | Nona Suka: Mahluk Suci 35 | Savah: Masyarakat Yang Terombang Ambing 43 | Tomorrow Coffee: Statusku Bukan Diriku 47 | It\'s Milk: Gambaran Diri Yang Hilang 51 | Locus: Masyarakat Yang Tak Terhubung 55 | Burrant: Masyarakat Konsumeris 59 | Nostalgic: Identitas Budaya, dan Bahasa 61 | Konyu: Perempuan Perkasa, Antara Dapur, Kasur, dan Sumur 65 | Iclear: Cyborg Kesadaran; di Mana Aku Diantara Mesin 73 | Maktal: Pengalaman Hidup 77 | Harmosbre: Hegemoni Baru 81 | Point Coffee: Paradoks Sistem Produksi 85 | Deco: Masyarakat Modern 89 | Tomorrow Coffee: Menjadi Rasional di Tengah Kegilaan 93 | Kafebone: Spiritual Yang Hilang 97 | Acibara: Bermain Peran di Masyarakat 101 | Satu Hati Coffee: Memahami Diri 105 | Woods Coffe: Cinta dan Desire 109 | Titik Temu: Menyerah Untuk Virgin 113 | Kopi Pancing: Oxymora Masa Depan 117 | Kinta: Slow Living atau Hedonisme Baru 123 | Rollpin: Masyarakat Urban dan Gaya Hidup 125 | Laiscafe: Masyarakat Yang Kelelahan 129 | Kopi Lain Hati: Perang Atensi, Kita Tak Punya Kendali 133 | Kopi Rasa: Aku Masih Ada? 135 | Mythime: Hak Untuk Lambat 139 | Bumi Restoe: Arsip Piksel Para Filsuf 143 | My Kopi O: Sudah Tidak Lagi Waiting for Godot 147 | Kopitiam: Ritme Sendok dan Cerita yang Mengendap 149 | Kopi Arumi: Ruang Kecil, Cerita Besar 151 | \"Cafe Daun Melayang: Kerajaan Sunyi di Atas Angin\" 155 | DAFTAR PUSTAKA 158
No other version available